Dalam kunjunganku ke kota metropolitan Surabaya yang penuh dengan hiruk pikuk manusia dan kegiatannya. Banyak perubahan yang terjadi di kota buaya ini. Pembangunan terjadi begitu cepat, nyaris aku tak bisa mengenali kota yang sudah berubah menjadi Kota Megapolitan ini. Bayangkan saja, 5 tahun yang lalu Kota Megapolitan Surabaya belum nampak gedung yang menjulang tinggi. Ada banyak mall yang bertebaran dalam kurun waktu yang begitu singkat. Sungguh suatu pemandangan yang mengharukan, kota Surabaya yang begitu sederhana, orang-orangnya yang ramah namun gaya bahasa yang ceplas-ceplos membuat persahabatan nampak begitu apa adanya.

Kota Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan. Banyak ditemukan tempat-tempat yang begitu mempesona, museum, masjid, gereja tua, gereja modern, bangunan kuil yang megah bisa ditemukan di Kota Megapolitan ini. Satu pemandangan yang menggetarkan jiwa, betapa arek-arek suroboyo yang ceplas-ceplos namun toleransinya begitu tinggi. Ini terlihat dari kesibukan sehari-hari mereka. Mereka bekerja, berusaha mencari nafkah buat keluarga, dan tidak terlihat kejadian-kejadian yang menegangkan. Kalaupun ada demo, mereka lakukan semuanya dengan tertib karena memang saat ini merupakan era kebebasan demokrasi yang terarah.

Di sudut kota yang penuh dengan keramaian lalu lintas, aku melihat adanya kegiatan yang cukup mencengangkan... Ada sekelompok anak-anak wanita yang ada di daerah Dr. Sutomo menjajakan koran. Mereka pada umumnya masih berusia 18 hingga 20 tahun dan anehnya jumlahnya ada puluhan orang yang berkeliling ke setiap kendaraan yang berhenti di saat lampu merah. Sempat ada seorang wanita remaja yang mendatangi mobilku, dan memperlihatkan headline koran tersebut. Lalu ketika jendela kaca mobil aku buka, dan ternyata wanita tersebut adalah mahasiswi yang sedang ditugaskan oleh kampus Widya Mandala.

enter image description here

Dalam hatiku berpikir, inilah pengalaman yang tidak akan dilupakan oleh mahasiswi yang berjualan koran dengan disengat terik matahari. Sungguh, hatiku jadi terharu karena mereka mau dan sanggup untuk menahan gengsi, mental yang begitu kuat menghadapi banyak tatapan mata yang mungkin memandang rendah mereka. Ujian yang begitu berat adalah ketika seseorang membangun karakter mental baja dengan tingkat sosial ekonomi yang mapan. Bayangkan saja saat ini mereka menjual koran hanya seharga Rp. 2.500,- padahal uang jajan mereka mungkin Rp. 25.000,- per hari dari orang tua mereka.

Ini merupakan hal yang patut diteladani oleh setiap orang tua yang cukup kaya, agar tidak memanjakan anak-anaknya. Kesempatan membangun karakter (Character Building), harus dimulai ketika mereka masih belia. Ibarat besi ditempa ketika masih membara, sehingga bisa dibentuk sesuai keinginan tukang besi agar menjadi alat yang berguna.

Last edited 16 November 2013