CYBERCRIME DI FACEBOOK

Ada gula ada semut...

Begitu kira-kira pepatah yang menggambarkan bagaimana Facebook sekarang ini. Dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna Facebook (yang notabene mencapai angka 1 miliar tahun 2013 ini), maka ada banyak yang memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk berbagai tujuan, ada yang untuk tujuan positif, ada pula yang menggunakannya sebagai 'ladang cybercrime' yang menarik dan empuk.

Tidak banyak orang yang menggunakan Facebook dengan mengerti apa resiko yang terkandung di dalamnya. Ada yang hanya melihat sisi 'fun'nya saja sehingga mengobral informasi pribadi dengan santainya. Awalnya sih cuma ingin pamer foto-foto sama teman-teman, tapi kecerobohan tersebut bisa menjadi makanan empuk para pelaku cybercrime yang ada di luar sana.

enter image description here

Facebook sendiri sudah mengupdate fitur privacy untuk melindungi para penggunanya, namun para pengguna seringkali menghiraukan hal ini karena dianggap terlalu ribet dan menyusahkan. Akibatnya banyak informasi pribadi yang kita publish terumbar di Facebook dan dengan mudah dapat ditemukan oleh para pengguna Facebook lainnya, termasuk para pelaku cybercrime.

Berikut ini beberapa bentuk kejahatan yang seringkali menjadi modus tindak kejahatan dunia maya (cybercrime) di Facebook:


  1. Mengambil alih akun Facebook orang lain (Hacking). Kasus ini pernah menjadi salah satu Hot Issue beberapa waktu yang lalu. Bahkan ada beberapa akun pejabat dan artis yang menjadi korbannya. Setelah mengambil alih akun tersebut, mereka menyebarkan informasi atau aplikasi palsu yang menipu teman-teman dari korban tersebut.

  2. Menggunakan identitas palsu di Facebook. Kasus ini juga sering kita dengar di Internet, dimana sebagian besar korbannya adalah wanita. Pelaku mendaftar akun Facebook dengan menggunakan identitas palsu termasuk foto-fotonya. Mereka ada yang menyamar menjadi tentara, pilot, atau pengacara. Mereka kemudian melancarkan serangan dengan memberikan rayuan gombal kepada korban hingga terbuai dan percaya begitu saja.

    Para kriminolog menyebutkan bahwa dengan menggunakan layanan yang diberikan Facebook atau Twitter, para pelaku merasa percaya diri dan berani karena sang korban tidak mengetahui motif sekaligus kepribadiannya pelaku sesungguhnya. Dalam beberapa kasus korban mengalami pelecehan seksual, bahkan pemerkosaan, atau penipuan uang.

  3. Penipuan dengan menggunakan aplikasi palsu. Tidak semua aplikasi tambahan yang ada di facebook dapat dipercayai begitu saja. Salah satu aplikasi palsu yang pernah menjadi tren, yaitu apliaksi yang menawarkan pengguna Facebook untuk bisa mengetahui siapa saja yang melihat profilnya. Untuk menggunakan aplikasi tersebut pengguna biasanya diminta untuk mengijinkan aplikasi tersebut mengakses data pribadi mereka. Dengan cara demikian, pelaku cybercrime bisa dengan leluasa mengakses seluruh informasi pengguna, termasuk passwordnya.

Last edited 12 May 2014